Demi Engkau Putriku

Ini adalah lembar terakhir yang dengannya aku menyeru engkau. Aku bawa ke hadiranmu, agar engkau menyerahkannya kepada putrimu. Ini adalah surat dari ayahnya yang telah menulis lembaran surat berikut ini:

“ Hai putri kecilku! Sepertinya aku melihat di kedua bola matamu yang jernih, dan kedua juluran tanganmu yang membentang, menyambut setiap aku kembali dari kesibukanku, engkau cium kedua pipiku disertai dekapan. Apakah engkau tahu?…..bagaimana engkau membuatku tidak kuasa untuk berpisah denganmu….Akan tetapi keadaanlah yang memaksaku untuk menjauh darimu, setelah kenangan terukir antara aku dan ibumu yang aku tak mampu untuk membawanya. Aku menyendiri di kesunyian hari yang kosong untuk melepaskan dan lari dari kalian. Akan tetapi semua itu sia-sia. Jiwaku menolak untuk menerima kenyataan yang ada. Aku tak menginginkan engkau masuk dalam lorong sempit kehidupan kami. Akan tetapi ….Hai! putri kecilku …aku ingin engkau mengusap air matamu…yang memancar dalam diriku keperihan, saat diriku gontai menahan sedih di akhir kunjunganku padamu. Dan aku mencari secercah kebahagiaan yang dulu ada di matamu, siapa yang telah membuatmu menangis hai kekasih kecilku? Siapa yang telah menyalakan kebencian terhadap orang yang paling engkau cintai di dalam hati mungilmu? Aku mengakui panasnya perpisahan denganmu tak mampu di padamkan gerimis beberapa hari. Dan aku mengakui engkau tidak akan rela terhadapku sekalipun aku ganti dengan hadiah. Aku mengetahui pula kata penyesalan tak cukup…..tak cukup… sekalipun aku menelan bara di depanmu.

Jangan engkau tanya aku bagaimana hari-hari berlalu sedang aku jauh darimu. Dan pondok itu hai manisku! Belum datang kebahagiaan setelahmu, bagaimana? padahal telah lenyap kata “ayah….ayah..!” dari gigi susumu. Setiap malam kerinduanku padamu membawaku untuk menemanimu bertamasya di hatiku yang menjadi tempat singgahmu selagi engkau matahari dan bumiku. Buah hatiku bagaimana mungkin perrpisahan denganmu membuatku merasa lega. Jadilah engkau penyambung antara aku dan ibumu, agar kita memetik bersama-sama pelukan harapan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s