نَكِرَة – مَعْرِفَة
NAKIRAH (Umum) – MA’RIFAH (Khusus)

Menurut penunjukannya, Isim dapat dibagi dua:

1) ISIM NAKIRAH atau kata benda bentuk umum atau tak dikenal (tak tentu).

2) ISIM MA’RIFAH atau kata benda bentuk khusus atau dikenal (tertentu).

Isim Nakirah merupakan bentuk asal dari setiap Isim, biasanya ditandai dengan huruf akhirnya yang bertanwin ( ً ٍ ٌ ). Sedangkan Isim Ma’rifah biasanya ditandai dengan huruf Alif-Lam ( ال ) di awalnya.

Contoh Isim Nakirah: بَيْتٌ (= sebuah rumah), وَلَدٌ (= seorang anak)

Contoh Isim Ma’rifah: اَلْبَيْتُ (= rumah itu), اَلْوَلَدُ (= anak itu)

Coba bandingkan dan perhatikan perbedaan makna dan fungsi antara Isim Nakirah dan Isim Ma’rifah dalam dua buah kalimat di bawah ini:

ذَلِكَ بَيْتٌ. اَلْبَيْتُ كَبِيْرٌ.
= Itu sebuah rumah. Rumah itu baru.
جَاءَ وَلَدٌ. اَلْوَلَدُ مُؤَدِّبٌ.
= Datang seorang anak. Anak itu sopan.

Berkaitan dengan Nakirah dan Ma’rifah, khususnya penggunaan awalan Alif-Lam dan baris Tanwin di akhir kata, ada beberapa pola kalimat (rangkaian kata) yang perlu kita ketahui perbedaannya dengan baik.

1. SHIFAT ( صِفَة ) dan MAUSHUF ( مَوْصُوْف )

Bila rangkaian dua buah Isim atau lebih, semuanya dalam keadaan Nakirah (tanwin) atau Ma’rifah (alif-lam) maka kata yang di depan dinamakan Maushuf (yang disifati) sedang kata yang di belakangnya dinamakan Shifat. Contoh:

بَلَدٌ أَمِيْنٌ = (sebuah) negeri yang aman

صِرَاطٌ مُسْتَقِيْمٌ
= (sebuah) jalan yang lurus

اَلْبَلَدُ اْلأَمِيْنُ = negeri yang aman
الصِّرَاطُ الْمُسْتَقِيْمُ = jalan yang lurus

2. MUDHAF ( مُضَاف ) dan MUDHAF ILAIH ( مُضَاف إِلَيْه )

Bila dua buah Isim atau lebih digabung menjadi satu kesatuan yang utuh dengan pengertian yang baru (Kata Majemuk) maka kata yang di depan (tanpa Alif-Lam) dinamakan Mudhaf Ilaih sedang kata yang di belakang (dengan Alif-Lam) dinamakan Mudhaf. Kata Majemuk termasuk dalam kelompok Isim Ma’rifah.

رَسُوْلُ اللهِ
= Rasul Allah
أَهْلُ الْكِتَابِ
= Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani)
سَيَّارَةُ اْلأُسْتَاذِ
= mobil Ustadz

مِفْتَاحُ السَّيَّارَةِ
= kunci mobil

3. MUBTADA’ ( مُبْتَدَأ ) dan KHABAR ( خَبَر )

Bila dua buah Isim atau lebih terangkai dalam satu kalimat yang sempurna, maka Isim yang pertama umumnya adalah Ma’rifah dinamakan Mubtada’ (Subjek), sedang Isim yang berikutnya adalah Nakirah dinamakan Khabar (Predikat).

الرَّسُوْلُ كَرِيْمٌ = Rasul itu mulia

السَّيَّارَةُ جَدِيْدٌ = Mobil itu baru
رَسُوْلُ اللهِ كَرِيْمٌ = Rasul Allah itu mulia
سَيَّارَةُ اْلأُسْتَاذِ جَدِيْدٌ = Mobil Ustadz itu baru

Kalimat sempurna yang terdiri dari Isim yang tersusun dari Mubtada’ dan Khabar seperti ini dinamakan JUMLAH ISMIYYAH ( جُمْلَة اِسْمِيَّة ) atau Kalimat Nominal (kalimat sempurna yang hanya terdiri dari Isim atau Kata Benda).

Perhatikan perbedaan antara kalimat-kalimat di bawah ini:

Jumlah Ismiyyah
Bukan Jumlah Ismiyyah
رَسُوْلُ اللهِ كَرِيْمٌ رَسُوْلُ اللهِ الْكَرِيْمِ

(Rasul Allah itu mulia)
(Rasul Allah Yang Mulia)
سَيَّارَةُ اْلأُسْتَاذِ جَدِيْدٌ سَيَّارَةُ أُسْتَاذِ الْجَدِيْدِ

(Mobil Ustadz itu baru) (Mobil Ustadz yang baru itu)

Kalimat sebelah kiri adalah Jumlah Ismiyyah yang Mubtada’ nya adalah Kata Majemuk (“Rasul Allah” dan “Mobil Ustadz”); sedang kalimat sebelah kanan bukanlah kalimat sempurna melainkan rangkaian kata yang merupakan kombinasi antara Mudhaf dan Mudhaf Ilaih dengan Shifat dan Maushuf.

Pada kalimat pertama sebelah kiri, yang mendapat Isim “mulia” adalah “Rasul”, sedang pada kalimat sebelah kanan, yang mendapat Isim “mulia” adalah “Allah”. Pada kalimat kedua sebelah kiri, yang mendapat Isim “baru” adalah “mobil”, sedang pada kalimat sebelah kanan, yang mendapat Isim “baru” adalah “Ustadz”.

Sebanyak apapun Isim yang terdapat dalam sebuah kalimat, tetap saja tidak bisa menghasilkan sebuah kalimat nominal sempurna (Jumlah Ismiyyah) bila tidak mengandung Mubtada’ dan Khabar. Bandingkan dua buah kalimat berikut ini:

1) Kalimat di bawah ini bukan Jumlah Ismiyyah:

مِفْتَاحُ بَابِ سَيَّارَةِ أُسْتَاذِ الْجَدِيْدِ
= Kunci pintu mobil guru baru.

2) Kalimat di bawah ini adalah Jumlah Ismiyyah (Kalimat Nominal Sempurna):

مِفْتَاحُ بَابِ سَيَّارَةِ اْلأُسْتَاذِ جَدِيْدٌ
= Kunci pintu mobil guru itu baru.

Kalimat pertama, tidak memiliki Khabar. Kata جَدِيْد (=baru) pada kalimat pertama adalah sifat dari أُسْتَاذ (=guru). Adapun pada kalimat kedua, kata جَدِيْد adalah Khabar dari مِفْتَاحُ بَابِ سَيَّارَةِ اْلأُسْتَاذ (=kunci pintu mobil guru) yang merupakan Mubtada’.

Selain Isim yang berawalan Alif-Lam, yang juga termasuk Isim Ma’rifah adalah:

1. ISIM ‘ALAM (Nama). Semua Isim ‘Alam termasuk Isim Ma’rifah, meskipun diantara Isim ‘Alam tersebut ada yang huruf akhirnya bertanwin.

Contoh: أَحْمَدُ (= Ahmad), عَلِيٌّ (= Ali), مَكَّةُ (= Makkah)

2. ISIM DHAMIR (Kata Ganti). Yaitu kata yang mewakili atau menggantikan penyebutan sesuatu atau seseorang atau sekelompok benda/orang.

Contoh: أَنَا (= aku, saya), نَحْنُ (= kami, kita), هُوَ (= ia, dia)

Selanjutnya kita akan membahas tentang Isim Dhamir atau Kata Ganti ini.

Advertisements

About englishcyber4u

1 want to have useful life for people around me..and 1 want to write till 1 die..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s